Cari Blog Ini

13 April 2013

PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI


Penyusunan Skala Psikologi


A.    Pengertian 
Pengukuran merupakan proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Berbagai alat ukur telah berhasil diciptakan untuk melakukan pengukuran atribut dalam bidang fisik seperti berat badan, luas bidang datar, dsb. Namun, pengukuran dalam bidang non-fisik, khusunya dalam bidang psikologi, masih dalam perkembangan mungin belum pernah mencapai kesempurnaannya. Beberapa tes dan skala psikologis standar dan yang telah terstandarkan kualitasnya belum dapat dikatakan optimal.
Terus berkembang pesatnya teori pengukuran pun memungkinkan kita untuk meningkatkan usaha guna mencapai keberhasilan dalam penyusunan dan pengembangan alat-alat ukur psikologi yang lebih berkualitas.

Ada beberapa alasan  pengukuran psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas dan objektivitas yang tinggi, antara lain :
a.      Atribut psikologi bersifat latent atau tidak tampak, oleh sebab itu, apa yang kita miliki bersifat konstrak yang tidak akan dapat diukur secara langsung. Dan batasan konstrak psikologis tidak dapat dibuat dengan akuransi yang tinggi serta tidak menutup kemungkinan terjadinya tumpang tindih (overlapping) dengan konsep atribut lain. Di samping itu, konstrak psikologis tidak mudah pula untuk dioperasionalkan.
b.     Aitem-aitem dalam skala psikologis didasari oleh indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas.
c.     Respon yang diberikan oleh subjek sedikit-banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel tidak relevan seperti suasana hati subjek, kondisi dan situasi di sekitar, kesalahan prosedur administrasi, dsb.
d.    Atribut psikologis yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi. Banyak yang gampang berubah sejalan dengan waktu dan situasi.
e.     Interpretasi terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normatif. Dalam istilah pengukuran, bahwa dalam pengukuran psikologi lebih banyak sumber error.
Keterbatasan-keterbatasan pengukuran dalam bidang psikologi inilah yang menjadikan prosedur konstruksi skala-skala psikologi lebih rumit.

Menurut Syaifuddin Azwar (2005:3-4), skala psikologi sebagai alat ukur yang memiliki karakteristik khusus 
*      cenderung digunakan untuk mengatur aspek bukan kognitif melainkan aspek afektif, 
*      stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan, 
*       jawabannya lebih bersifat proyektif, 
*       selalu berisi banyak item berkenaan dengan atribut yang diukur, 
*      respon subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”, semua jawaban dianggap benar sepanjang sesuai keadaan yang sebenarnya, jawaban yang berbeda diinterpretasikan berbeda pula.
Menurut Cronbach (1970) karakteristik skala psikologis di atas tersebut sebagai ciri pengukuran terhadap performansi tipikal (typical performance), yaitu performansi yang menjadi karakter tipikal seseorang dan cenderung di munculkan secara sadar atau tidak sadar dalam bentuk respon terhadap situasi-situasi tertentu yang sedang dihadapi. Dalam penerapan psikodiagnostika, skala-skala performansi tipikal digunakan untuk mengungkapkan aspek-aspek afektif seperti minat, sikap, dan berbagai variable kepribadian lain, semisal agresivitas, self-esteem, locus of control, motivasi belajar, kepemimpinan, dsb.

Skala psikologi biasanya digunakan untuk mengungkapkan konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan  aspek kepribadian individu seperti : tendensi agresifitas, sikap terhadap sesuatu, self esteem, kecemasan, persepsi, dan motivasi.

B. Tahapan-tahapan penyusunan skala psikologi :
a.   Penetapan tujuan 
Pada tahap penepatan tujuan ini  dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak diukur. 
b.   Operasionalisasi konsep
Peneliti melakukan pembatasan pada kawasan (domain) ukur berdasarkan konstrak yang didefinisikan oleh teori yang bersangkutan. Dengan mengenali batasan ukur dan adanya dimensi yang jelas, maka skala akan mengukur secara komprehensif dan relevan, sehingga menunjang validitas isi skala.
Misal, seorang mahasiswa hendak meneliti tentang “konsep diri” siswa, pada tahap ini sebaiknya ia sudah memahami konstrak teori tentang ‘konsep diri” secara benar. Misal : pengertian konsep diri, isi konsep diri, struktur konsep diri, faktor yang mempengaruhi konsep diri, ciri-ciri konsep diri, dan indikator-indikator konsep diri. Mendasarkan konstraknya peneliti mengembangkan item-itemnya.
c.   Pemilihan bentuk stimulan
Sebelum penulisan aitem, penyusunan psikologis perlu menetapkan bentuk atau format stimulus yang hendak digunakan. Bentuk ini berkaitan dengan metode penskalaan. Dalam pemilihan bentuk penskalaan ini lebih tergantung pada kelebihan teoritis dan manfaat praktis format yang bersangkutan.
d.   Penulisan aitem/reviu aitem
Sutrisno Hadi menyebutkan beberapa kaidah dalam penulisan aitem, sebagai berikut :
1)      Gunakan kalimat yang sederhana, jelas dan mudah dimengerti oleh responden, serta mengikuti tata tulis dan tata bahasa yang baku.
2)      Hindari penggunaan kata-kata bermakna ganda dan memasukkan kata-kata yang tidak berguna.
3)      Hindari penggunaan kata-kata yang terlalu kuat (sugestif, menggiring) karena akan mendorong responden untuk keluar dari pagar fakta-fakta, serta kata-kata yang terlalu lemah (tidak merangsang) karena tidak dapat memancing respon yang memadai atau adekuat.
4)      Selalu diingat bahwa dalam penulisan aitem hendaknya selalu mengacu pada indikator perilaku, oleh karena itu, jangan jangan menulis aitem yang langsung mengacu pada atribut yang akan diungkap.
5)      Perhatikan indikator perilaku yang hendak diungkap sehingga stimulus dan pilihan jawaban tetap relevan dengan tujuan pengukuran.
6)      Perlu menguji pilihan-pilihan jawaban yang ditulis,adakah perbedaan arti atau makna antara dua pilihan yang berbeda sesuai dengan ciri atribut yang sedang diukur. Apabila tidak ada bedanya maka aitem yang bersangkutan tidak memiliki daya beda (discriminating power).
7)      Isi aitem tidak boleh mengandung keinginan sosial ataupun yang dianggap baik dalam norma sosial, karena aitem yang mengandung norma sosial cenderung akan disetujui dan didukung oleh semua orang bukan karena sesuai dengan perasaan atau keadaan dirinya, namun karena orang berfikir normativ.
8)      Untuk menghindari adanya stereotype jawaban atau memberikan jaawaban pada sisi kanan atau kiri tanpa membaca dan mempertimbangkan dengan diri reaponden, maka sebagian aitem perlu dibuat dalam arah favorabel (positif) dan dalam arah favirabel (negatif) sehingga responden akan membaca lebih teliti dan sungguh-sungguh.

e.    Reviu aitem
Reviu pertama dilakukan oleh penulis aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa apakah telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap dan apakah juga tidak keluar dari pedoman penulisan aitem. Setelah itu revieu kedua dilakukan oleh orang lain yang dianggap kompeten untuk mereviu.
Kompeteensi yang diperlukan oleh orang yang diminta untuk mereviu :
1)      Menguasai masalah konstruksi
2)      Menguasai masalh atribut yang diukur
3)      Menguasai bahasa tulis standar
Semua aitem-aitem harus sesuai ketentuan spesifikasi blue-print, jika tidak, aitem tersebut harus ditulis ulang.

f.    Uji coba
Tujuan pertama uji coba aitem adalah untuk mengetahui apakah kalimat-kalimat dalam aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden. Reaksi-reaksi responden berupa pertanyaan-pertanyaan apakah kalimat yang digunakan dalam aitem merupakan pertanda kurang komunikasinya kalimat yang ditulis dam memerlukan perbaikan. Tujuan kedua, uji coba dijadikan salah satu jawaban praktis untuk memeperoleh data jawaban dari responden yang akan digunakan untuk penskalaan  atau evaluasi kualitas aitem secara statistik.

g.   Analisis aitem
Analisis aitem merupakan proses pengujian parameter-parameter aitem guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala.
Parameter aitem yang perlu diuji adalah daya beda, daya beda aitem memperlihatkan kemampuan aitem untuk membedakan individu ke dalam berbagai tingkatan kualitatif atribut yang diukur mendasarkan skor kuantitatif. Misalnya, ingin menguji motivasi belajar seseorang, maka aitem tersebut bisa menunjukkan perbedaan individu yng motivasi belajarnya tinggi, sedang dan rendah.

h.   Kompilasi I
Berdasarkan dari analisis aitem, maka aitem-aitem yang tidak memenuhi persyratan psikometris harus diperbaiki terlebih dahulu supaya dapat masuk ke dalam skala, begitu pula aitem-aitem yang telah memenuhi persyatan tidak serta merta dapat masuk ke dalam skala, karena proses kompilasi harus mempertimbangkan proporsionalitas skala sebagaimana dideskripsikan oleh blue-printnya. Beberapa yang perlu diperhatikan dalam mengkompilasi aitem-aitem yang sudah memenuhi persyaratan, anatara lain :
1)      Apakah suatu aitem memenuhi persyaratan psikometris atau tidak
2)      Proposionalitas komponen-komponen skala seperti tertera dalam blue-print

i.    Kompilasi II
Aitem-aitem yang terpilih yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan oleh blue-print, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Jika koefisien reliabilitas kurang memuaskan, maka kembali ke tahap kompilasi dan merakit ulang skala dengan lebih mengutamakan aitem dengan daya deskriminasi tinggi

j.      Format akhir
Dalam format akhir skala sebaiknya ditata dalam tampilan yang menarik tetpai tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Menurut Syaifuddin Azwar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1)      Perlu dilengkapi dengan pengerjaan dan lebar jawab yang terpisah
2)      Ukuran kertas juga disesuaikan dengan panjangnya skala, agar berkas skala tidak nampak terlalu tebal yang menyebabkan responden kehilangan motivasi
3)      Ukuran huruf juga perlu mempertimbangkan usia responden

C. Konsep & dimensi
Ketika membuat skala, maka ditahap pertama yang harus dilakukan adalah memahami suatu fenomena,gejala, masalah dari hasil observasi dilapangan dengan melihat beberapa indikator perilaku yang terjadi, setelah itu pembuat skala melakukan identifikasi tujuan atau konsep.

Konsep atau konstrak dalam istilah skala merupakan
variabel psikologis yang dipahami sebagai identivikasi tujuan, variabel - valiabel psikologis itu yang sudah dipelajari dalam memahami ilmu psikologi, baik psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi klinis, psikologi industri dan organisasi dan sebagainya. 
Membuat skala harus paham konsep/variabel psikologis misalnya tentang kecemasan, minat, agresivitas, harga diri, kepercayaan diri, motivasi, penyesuaian diri, kepuasan dan sebagainya.
sehingga dalam membuat skala para peneliti akan mudah pula menterjemahkan atribut serta indikato-indikator keperilakuan responden yang akan diukur.
Contoh konsep  :
Deskripsi bentuk-bentuk perilaku yang mengindikasikan adanya atribut psikologi yang diukur ini yang dimaksu
d dengan Indikator keperilakuan.
Resiliensi merupakan daya lenting yang dimiliki seseorang, ditandai dengan adanya penyesuaian diri yang positif ketika menghadapi kesulitan. 
Atribut :Aspeknya :Kompetensi pribadi, Kepercayaan pada nurani, penerimaan diri yang positif, Kontrol, Pengaruh spritual
2. konflik peran ganda sebagai konflik yang muncul akibat tanggung jawab yang berhubungan dengan pekerjaan mengganggu permintaan, waktu dan ketegangan dalam keluarga. 
Atribut/aspek/dimensi:Greenhaus & Beutell (Frone, 2003), yaitu 1) konflik berdasar waktu (time based conflict ), 2) konflik berdasar tegangan (strain based conflict) 3) konflik berdasar perilaku (behavior based conflict) yang terbagi menjadi dua arah yaitu urusan pekerjaan mengganggu keluarga (work interfering with family) dan urusan keluarga mengganggu pekerjaan (family interfering with).
3. kecemasan adalah perasaan campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut, ditandai oleh perasaan-perasaan kecemasan yang kuat dan disertai gejala-gejala seperti: berdebarnya jantung, rasa tercekik, sesak didada, gemetaran, pingsan dan sebagainya.
atribut/gejala:kecemasan yaitu: Anxiety equivalent, Anxiety fixation, Anxiety hysteria, Anxiety neurosis, Anxiety object, Anxiety reaction, Anxiety tolerance.




D. Indikator keperilakuan
beberapa hal yang harus dipahami bahwa ketika kita mau menuliskan aitem skala, point penting yang mempermudah dalam membuat skala adalah jika aspek keperilakuan/atribut memiliki konsep yang jelas dan disertai indikator perilaku yang jelas pula dari masing-masing atribut/aspek. jika tidak ada indikator keperilakuan dlm konsep itu maka pembuat skala harus merumuskan apa saja indikator keperilakuan yang akan diukur.
Contoh :
Indikator keprilakuan PERILAKU MELANGGAR ATURAN

• Perilaku melanggar aturan rumah yang lain diantaranya penyerangan agresi verbal pada saudara kandung, ledakkan kemarahan, memecahkan dan merusak barang secara sengaja, tidak sopan terhadap teman dan relasi keluarga, berbohong, mencuri kecil-kecilan dari orang tua dan saudara, sering keluyuran, melalaikan tanggung jawab, menentang orang tua dan melarikan diri atau kabur dari rumah.

• Perilaku mengganggu seperti ribut di dalam kelas dan mengganggu siswa lain.
Tidak mematuhi dan mengabaikan perintah, seperti :  mengabaikan perintah guru, datang terlambat ke sekolah, membolos, meninggalkan kelas tanpa izin, tidak mengerjakan tugas sekolah atau pekerjaan rumah (PR), tidak berseragam lengkap, tidak berpakaian rapi, keluyuran di luar sekolah pada saat jam sekolah atau setelah pulang sekolah. Tidak hormat pada guru, seperti : tidak sopan atau kurang ajar pada guru, mengobrol ketika guru sedang menerangkan di kelas, menentang atau melawan perintah guru. Pemalsuan fakta, terdiri dari : memalsukan tanda tangan orang tua dan berbohong. Mengabaikan faktor kebersihan dan kesehatan seperti membuang sampah sembarangan dan mengotori sekolah. mencontek pekerjaan rumah ataupun ketika ujian.
• Perilaku melanggar aturan masyarakat banyak dikaitkan dengan aktivitas yang bersifat hiburan atau rekreasi dan biasanya muncul ketika remaja tidak berada di rumah atau di sekolah jika remaja tidak mempunyai tanggung jawab di rumah dan pekerjaan yang membuatnya sibuk setelah sekolah di akhir minggu atau liburan maka mereka mempunyai banyak waktu senggang untuk berbuat atau terlibat dalam pelanggaran atau bahkan kenakalan. Sebagian besar remaja mengeluh tidak ada yang mereka kerjakan dan untuk menimbulkan kesenangan sehingga mereka mencari aktivitas yang bisa membuat remaja merasa senang yang ternyata memberikan dampak negatif terhadap pemikiran masyarakat.


Tidak ada komentar: