Penyusunan Skala Psikologi
A. Pengertian
Pengukuran merupakan proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan
data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Berbagai alat ukur telah
berhasil diciptakan untuk melakukan pengukuran atribut dalam bidang fisik
seperti berat badan, luas bidang datar, dsb. Namun, pengukuran dalam bidang
non-fisik, khusunya dalam bidang psikologi, masih dalam perkembangan mungin
belum pernah mencapai kesempurnaannya. Beberapa tes dan skala psikologis
standar dan yang telah terstandarkan kualitasnya belum dapat dikatakan optimal.
Terus berkembang pesatnya teori pengukuran pun
memungkinkan kita untuk meningkatkan usaha guna mencapai keberhasilan dalam
penyusunan dan pengembangan alat-alat ukur psikologi yang lebih berkualitas.
Ada beberapa alasan pengukuran
psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan
dengan validitas, reliabilitas dan objektivitas yang tinggi, antara lain :
a.
Atribut
psikologi bersifat latent atau tidak tampak, oleh sebab itu, apa yang kita
miliki bersifat konstrak yang tidak akan dapat diukur secara langsung. Dan
batasan konstrak psikologis tidak dapat dibuat dengan akuransi yang tinggi
serta tidak menutup kemungkinan terjadinya tumpang tindih (overlapping) dengan
konsep atribut lain. Di samping itu, konstrak psikologis tidak mudah pula untuk
dioperasionalkan.
b.
Aitem-aitem dalam skala psikologis didasari
oleh indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas.
c.
Respon yang
diberikan oleh subjek sedikit-banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel tidak
relevan seperti suasana hati subjek, kondisi dan situasi di sekitar, kesalahan
prosedur administrasi, dsb.
d.
Atribut psikologis
yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi. Banyak yang
gampang berubah sejalan dengan waktu dan situasi.
e.
Interpretasi
terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normatif. Dalam
istilah pengukuran, bahwa dalam pengukuran psikologi lebih banyak sumber error.
Keterbatasan-keterbatasan pengukuran dalam
bidang psikologi inilah yang menjadikan prosedur konstruksi skala-skala
psikologi lebih rumit.
Menurut
Syaifuddin Azwar (2005:3-4), skala psikologi sebagai alat ukur yang memiliki
karakteristik khusus
cenderung digunakan
untuk mengatur aspek bukan kognitif melainkan aspek afektif,
stimulusnya berupa
pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak
diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan,
jawabannya lebih bersifat proyektif,
selalu berisi banyak item berkenaan dengan
atribut yang diukur,
respon subyek tidak
diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”, semua jawaban dianggap
benar sepanjang sesuai keadaan yang sebenarnya, jawaban yang berbeda
diinterpretasikan berbeda pula.
Menurut Cronbach
(1970) karakteristik skala
psikologis di atas tersebut sebagai ciri pengukuran terhadap performansi
tipikal (typical performance), yaitu performansi yang menjadi karakter tipikal seseorang
dan cenderung di munculkan secara sadar atau tidak sadar dalam bentuk respon
terhadap situasi-situasi tertentu yang sedang dihadapi. Dalam penerapan
psikodiagnostika, skala-skala performansi tipikal digunakan untuk mengungkapkan
aspek-aspek afektif seperti minat, sikap, dan berbagai variable kepribadian
lain, semisal agresivitas, self-esteem, locus of control, motivasi belajar,
kepemimpinan, dsb.
Skala psikologi biasanya digunakan untuk mengungkapkan
konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian
individu seperti : tendensi agresifitas, sikap terhadap sesuatu, self esteem,
kecemasan, persepsi, dan motivasi.
B. Tahapan-tahapan penyusunan
skala psikologi :
a. Penetapan tujuan
Pada tahap penepatan
tujuan ini dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu
definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang
hendak diukur.
b. Operasionalisasi
konsep
Peneliti melakukan
pembatasan pada kawasan (domain) ukur berdasarkan konstrak yang didefinisikan
oleh teori yang bersangkutan. Dengan mengenali batasan ukur dan adanya dimensi
yang jelas, maka skala akan mengukur secara komprehensif dan relevan, sehingga
menunjang validitas isi skala.
Misal, seorang mahasiswa hendak meneliti
tentang “konsep diri” siswa, pada tahap ini sebaiknya ia sudah memahami
konstrak teori tentang ‘konsep diri” secara benar. Misal : pengertian konsep
diri, isi konsep diri, struktur konsep diri, faktor yang mempengaruhi konsep
diri, ciri-ciri konsep diri, dan indikator-indikator konsep diri. Mendasarkan
konstraknya peneliti mengembangkan item-itemnya.
c. Pemilihan bentuk
stimulan
Sebelum penulisan
aitem, penyusunan psikologis perlu menetapkan bentuk atau format stimulus yang
hendak digunakan. Bentuk ini berkaitan dengan metode penskalaan. Dalam
pemilihan bentuk penskalaan ini lebih tergantung pada kelebihan teoritis dan
manfaat praktis format yang bersangkutan.
d. Penulisan
aitem/reviu aitem
Sutrisno Hadi menyebutkan beberapa kaidah dalam penulisan
aitem, sebagai berikut :
1) Gunakan kalimat yang
sederhana, jelas dan mudah dimengerti oleh responden, serta mengikuti tata
tulis dan tata bahasa yang baku.
2) Hindari penggunaan
kata-kata bermakna ganda dan memasukkan kata-kata yang tidak berguna.
3) Hindari penggunaan
kata-kata yang terlalu kuat (sugestif, menggiring) karena akan mendorong
responden untuk keluar dari pagar fakta-fakta, serta kata-kata yang terlalu
lemah (tidak merangsang) karena tidak dapat memancing respon yang memadai atau
adekuat.
4) Selalu diingat bahwa
dalam penulisan aitem hendaknya selalu mengacu pada indikator perilaku, oleh
karena itu, jangan jangan menulis aitem yang langsung mengacu pada atribut yang
akan diungkap.
5) Perhatikan indikator
perilaku yang hendak diungkap sehingga stimulus dan pilihan jawaban tetap
relevan dengan tujuan pengukuran.
6) Perlu menguji
pilihan-pilihan jawaban yang ditulis,adakah perbedaan arti atau makna antara
dua pilihan yang berbeda sesuai dengan ciri atribut yang sedang diukur. Apabila
tidak ada bedanya maka aitem yang bersangkutan tidak memiliki daya beda
(discriminating power).
7) Isi aitem tidak boleh
mengandung keinginan sosial ataupun yang dianggap baik dalam norma sosial,
karena aitem yang mengandung norma sosial cenderung akan disetujui dan didukung
oleh semua orang bukan karena sesuai dengan perasaan atau keadaan dirinya,
namun karena orang berfikir normativ.
8) Untuk menghindari
adanya stereotype jawaban atau memberikan jaawaban pada sisi kanan atau kiri
tanpa membaca dan mempertimbangkan dengan diri reaponden, maka sebagian aitem
perlu dibuat dalam arah favorabel (positif) dan dalam arah favirabel (negatif)
sehingga responden akan membaca lebih teliti dan sungguh-sungguh.
e. Reviu aitem
Reviu pertama dilakukan oleh penulis aitem
sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa apakah telah sesuai dengan indikator
perilaku yang hendak diungkap dan apakah juga tidak keluar dari pedoman
penulisan aitem. Setelah itu revieu kedua dilakukan oleh orang lain yang
dianggap kompeten untuk mereviu.
Kompeteensi yang diperlukan oleh orang yang
diminta untuk mereviu :
1) Menguasai masalah
konstruksi
2) Menguasai masalh
atribut yang diukur
3) Menguasai bahasa tulis
standar
Semua aitem-aitem harus sesuai ketentuan
spesifikasi blue-print, jika tidak, aitem tersebut harus ditulis ulang.
f. Uji coba
Tujuan pertama uji
coba aitem adalah untuk mengetahui apakah kalimat-kalimat dalam aitem mudah dan
dapat dipahami oleh responden. Reaksi-reaksi responden berupa
pertanyaan-pertanyaan apakah kalimat yang digunakan dalam aitem merupakan
pertanda kurang komunikasinya kalimat yang ditulis dam memerlukan perbaikan.
Tujuan kedua, uji coba dijadikan salah satu jawaban praktis untuk memeperoleh
data jawaban dari responden yang akan digunakan untuk penskalaan atau
evaluasi kualitas aitem secara statistik.
g. Analisis aitem
Analisis aitem merupakan proses pengujian
parameter-parameter aitem guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan
psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala.
Parameter aitem yang perlu diuji adalah daya
beda, daya beda aitem memperlihatkan kemampuan aitem untuk membedakan individu
ke dalam berbagai tingkatan kualitatif atribut yang diukur mendasarkan skor
kuantitatif. Misalnya, ingin menguji motivasi belajar seseorang, maka aitem
tersebut bisa menunjukkan perbedaan individu yng motivasi belajarnya tinggi,
sedang dan rendah.
h. Kompilasi I
Berdasarkan dari
analisis aitem, maka aitem-aitem yang tidak memenuhi persyratan psikometris
harus diperbaiki terlebih dahulu supaya dapat masuk ke dalam skala, begitu pula
aitem-aitem yang telah memenuhi persyatan tidak serta merta dapat masuk ke
dalam skala, karena proses kompilasi harus mempertimbangkan proporsionalitas
skala sebagaimana dideskripsikan oleh blue-printnya. Beberapa yang perlu
diperhatikan dalam mengkompilasi aitem-aitem yang sudah memenuhi persyaratan,
anatara lain :
1) Apakah suatu aitem
memenuhi persyaratan psikometris atau tidak
2) Proposionalitas
komponen-komponen skala seperti tertera dalam blue-print
i. Kompilasi II
Aitem-aitem yang
terpilih yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan
oleh blue-print, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Jika koefisien
reliabilitas kurang memuaskan, maka kembali ke tahap kompilasi dan merakit
ulang skala dengan lebih mengutamakan aitem dengan daya deskriminasi tinggi
j. Format akhir
Dalam format akhir
skala sebaiknya ditata dalam tampilan yang menarik tetpai tetap memudahkan responden
untuk membaca dan menjawabnya. Menurut Syaifuddin Azwar, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan, yaitu :
1) Perlu dilengkapi dengan
pengerjaan dan lebar jawab yang terpisah
2) Ukuran kertas juga
disesuaikan dengan panjangnya skala, agar berkas skala tidak nampak terlalu
tebal yang menyebabkan responden kehilangan motivasi
3) Ukuran huruf juga perlu
mempertimbangkan usia responden
C. Konsep & dimensi
Ketika membuat
skala, maka ditahap pertama yang harus dilakukan adalah memahami suatu fenomena,gejala, masalah dari hasil observasi dilapangan
dengan melihat beberapa indikator perilaku yang terjadi, setelah itu pembuat
skala melakukan identifikasi tujuan atau konsep.
Konsep
atau konstrak dalam istilah skala
merupakan variabel psikologis yang dipahami sebagai identivikasi
tujuan, variabel - valiabel psikologis itu yang sudah dipelajari dalam memahami
ilmu psikologi, baik psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi
klinis, psikologi industri dan organisasi dan sebagainya.
Membuat skala harus paham konsep/variabel psikologis misalnya
tentang kecemasan, minat, agresivitas, harga diri, kepercayaan diri, motivasi,
penyesuaian diri, kepuasan dan sebagainya.
sehingga dalam membuat skala para peneliti
akan mudah pula menterjemahkan atribut serta indikato-indikator keperilakuan
responden yang akan diukur.
Contoh konsep :
Deskripsi bentuk-bentuk perilaku yang mengindikasikan adanya atribut psikologi
yang diukur ini yang dimaksud dengan Indikator
keperilakuan.
Resiliensi merupakan
daya lenting yang dimiliki seseorang, ditandai dengan adanya penyesuaian diri
yang positif ketika menghadapi kesulitan.
Atribut :Aspeknya :Kompetensi pribadi,
Kepercayaan pada nurani, penerimaan diri yang positif, Kontrol, Pengaruh
spritual
2. konflik peran ganda sebagai konflik yang
muncul akibat tanggung jawab yang berhubungan dengan pekerjaan mengganggu
permintaan, waktu dan ketegangan dalam keluarga.
Atribut/aspek/dimensi:Greenhaus & Beutell
(Frone, 2003), yaitu 1) konflik berdasar waktu (time based conflict ), 2)
konflik berdasar tegangan (strain based conflict) 3) konflik berdasar perilaku
(behavior based conflict) yang terbagi menjadi dua arah yaitu urusan pekerjaan
mengganggu keluarga (work interfering with family) dan urusan keluarga
mengganggu pekerjaan (family interfering with).
3. kecemasan adalah perasaan campuran
berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab
khusus untuk ketakutan tersebut, ditandai oleh perasaan-perasaan kecemasan yang
kuat dan disertai gejala-gejala seperti: berdebarnya jantung, rasa tercekik,
sesak didada, gemetaran, pingsan dan sebagainya.
atribut/gejala:kecemasan yaitu: Anxiety
equivalent, Anxiety fixation, Anxiety hysteria, Anxiety neurosis, Anxiety
object, Anxiety reaction, Anxiety tolerance.
D. Indikator
keperilakuan
beberapa hal yang
harus dipahami bahwa ketika kita mau menuliskan aitem skala, point penting yang
mempermudah dalam membuat skala adalah jika aspek keperilakuan/atribut memiliki
konsep yang jelas dan disertai indikator perilaku yang jelas pula dari
masing-masing atribut/aspek. jika tidak ada indikator keperilakuan dlm konsep
itu maka pembuat skala harus merumuskan apa saja indikator keperilakuan yang
akan diukur.
Contoh :
Indikator keprilakuan PERILAKU MELANGGAR ATURAN
• Perilaku melanggar aturan rumah yang lain diantaranya penyerangan agresi
verbal pada saudara kandung, ledakkan kemarahan, memecahkan dan merusak barang
secara sengaja, tidak sopan terhadap teman dan relasi keluarga, berbohong,
mencuri kecil-kecilan dari orang tua dan saudara, sering keluyuran, melalaikan
tanggung jawab, menentang orang tua dan melarikan diri atau kabur dari rumah.
• Perilaku mengganggu seperti ribut di dalam
kelas dan mengganggu siswa lain.
Tidak mematuhi dan mengabaikan perintah,
seperti : mengabaikan perintah guru, datang terlambat ke sekolah,
membolos, meninggalkan kelas tanpa izin, tidak mengerjakan tugas sekolah atau
pekerjaan rumah (PR), tidak berseragam lengkap, tidak berpakaian rapi,
keluyuran di luar sekolah pada saat jam sekolah atau setelah pulang sekolah.
Tidak hormat pada guru, seperti : tidak sopan atau kurang ajar pada guru,
mengobrol ketika guru sedang menerangkan di kelas, menentang atau melawan
perintah guru. Pemalsuan fakta, terdiri dari : memalsukan tanda tangan orang tua
dan berbohong. Mengabaikan faktor kebersihan dan kesehatan seperti membuang
sampah sembarangan dan mengotori sekolah. mencontek pekerjaan rumah ataupun
ketika ujian.
• Perilaku melanggar aturan masyarakat banyak
dikaitkan dengan aktivitas yang bersifat hiburan atau rekreasi dan biasanya
muncul ketika remaja tidak berada di rumah atau di sekolah jika remaja tidak
mempunyai tanggung jawab di rumah dan pekerjaan yang membuatnya sibuk setelah
sekolah di akhir minggu atau liburan maka mereka mempunyai banyak waktu
senggang untuk berbuat atau terlibat dalam pelanggaran atau bahkan kenakalan.
Sebagian besar remaja mengeluh tidak ada yang mereka kerjakan dan untuk
menimbulkan kesenangan sehingga mereka mencari aktivitas yang bisa membuat
remaja merasa senang yang ternyata memberikan dampak negatif terhadap pemikiran
masyarakat.