welcome to my world, Please enjoy everything in this blog, Have a nice day And Thank you For visiting my blog.
Cari Blog Ini
2 November 2011
21 Juli 2011
negara-negara dengan akses internet tercepat
Mau tahu negara apa saja yang mempunyai koneksi internet cepat?
Negara Kategori Speed Download Tercepat
1. 23.77 Mb/s Korea, Republic of
2. 16.99 Mb/s Japan
3. 15.91 Mb/s Aland Islands
4. 15.82 Mb/s Latvia
5. 14.52 Mb/s Romania
6. 14.38 Mb/s Lithuania
7. 14.30 Mb/s Sweden
Negara Kategori Upload Tercepat
1. 9.29 Mb/s Lithuania
2. 8.10 Mb/s Japan
3. 6.26 Mb/s Latvia
4. 6.12 Mb/s Bulgaria
5. 5.74 Mb/s Aland Islands
6. 5.57 Mb/s Hong Kong
7. 5.42 Mb/s Romania
sumber : http://onthespot7langka.blogspot.com/2011/07/7-negara-dengan-internet-tercepat.html
Negara Kategori Speed Download Tercepat
1. 23.77 Mb/s Korea, Republic of
2. 16.99 Mb/s Japan
3. 15.91 Mb/s Aland Islands
4. 15.82 Mb/s Latvia
5. 14.52 Mb/s Romania
6. 14.38 Mb/s Lithuania
7. 14.30 Mb/s Sweden
Negara Kategori Upload Tercepat
1. 9.29 Mb/s Lithuania
2. 8.10 Mb/s Japan
3. 6.26 Mb/s Latvia
4. 6.12 Mb/s Bulgaria
5. 5.74 Mb/s Aland Islands
6. 5.57 Mb/s Hong Kong
7. 5.42 Mb/s Romania
sumber : http://onthespot7langka.blogspot.com/2011/07/7-negara-dengan-internet-tercepat.html
7 WEBSITE YANG PALING BANYAK DIKUNJUNGI
1. GOOGLE.COM
2. FACEBOOK.COM
3.YOUTUBE.COM
4.YAHOO.COM
5.BLOGGER.COM
6.WIKIPEDIA.ORG
7.TWITTER.COM
.
14 Juli 2011
Suicidal Self Injury
Wah, kali ini saya sangat tertarik membahas tentang suicidal self injury atau biasa disebut self injury. Ada banyak pertanyaan dibenak saya mengenai kelainan psikologis ini, saya akan coba bahas satu persatu, walau informasi nya belum cukup jelas.
Pertama mari kita mengenal apa yang dimaksud self injury itu?
Self Injury
Hingga saat ini tidak terdapat kesepakatan secara internasional mengenai definisi self injury. Secara ringkas self injury didefinisikan sebagai mekanisme coping yang digunakan seorang individu untuk mengatasi rasa sakit secara emosional atau menghilangkan rasa kekosongan kronis dalam diri dengan memberikan sensasi pada diri sendiri. Self injury merupakan mekanisme coping yang kejam dan merusak namun banyak orang melakukannya karena memang mekanisme tersebut bekerja dan bahkan bisa menyebabkan kecanduan. Dalam pendefinisian lain dikatakan bahwa self injury merupakan segala tindakan melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja tanpa adanya maksud membunuh dirinya ataupun tidak berhubungan dengan kepentingan estetika (misal tato) dan sanksi sosial dengan tujuan membebaskan diri dari distres emosional.
Kira-kira mengapa yah, seseorang melakukan self injury?
Rasa sakit secara fisik lebih mudah dihadapi ketimbang sebab sakit secara fisik nampaknya lebih nyata. Nyeri fisik dapat membuktikan pada seseorang bahwa rasa sakit yang dirasakan secara emosional memang benar dan nyata. Perilaku ini dapat membawa ketenangan dan membangunkan seseorang. Namun demikian self injury hanya menyebabkan pembebasan yang bersifat sementara dan tidak mengatasi akar permasalahannya. Hingga akhirnya seseorang yang pernah melakukannya akan memiliki kecenderungan untuk mengulanginya dengan peningkatan pada frekuensi dan derajat kerusakan secara fisik yang ditimbulkannya.
Tindakan mengambil pisau kemudian digunakan untuk diiriskan pada tubuh sendiri kemudian memperhatikan darah yang mengalir dari luka tersebut mungkin merupakan tindakan yang tidak terbayang dapat dilakukan oleh seseorang. Namun dalam kenyataannya beberapa orang melakukannya. Tindakan ini dilakukan tidak dengan tujuan bunuh diri tetapi sebagai suatu cara untuk melampiaskan emosi-emosi yang terlalu menyakitkan untuk diekspresikan dengan kata-kata oleh karena itu maka self injury dibedakan dari bunuh diri walau keduanya sama-sama menyebabkan luka fisik pada tubuh. Perilaku ini bertujuan untuk mencapai pembebasan dari emosi yang tak tertahankan, perasaan bahwa dirinya tidak nyata, dan mati rasa.
Seperti apa bentuk-bentuk self injury itu??
Self injury atau self harm ternyata dibedakan menjadi dua, yaitu self injury direct (secara langsung) dan self injury indirect( secara tidak langsung).
· Self injury direct:
Mengiris/menggores dan membakar kulit adalah bentuk-bentuk self injury yang paling umum. Biasanya mereka menggunakan silet, pisau, pecahan kaca, atau alat-alat tajam lainnya-bahkan tutup botol dll, awalnya mereka membuat irisan dangkal pada lengan atau tungkai. Tindakan ini di kalangan para pelakunya dikenal sebagai “cutting” dan pelaku self injury yang secara rutin melakukannya dikenal sebagai seorang “cutter”. Luka iris multipel yang terlokalisasi tersebut biasanya memiliki kemiripan satu sama lain dalam arti terpola dan hal ini merupakan ciri khas dari “cutting”. Pada keadaan yang lebih jarang dijumpai, perilaku ini meliputi juga pemotongan pada bagian tubuh tertentu, misalnya saja payudara dan organ kelamin. Contoh self injury lainnya meliputi:
· Meninju, memukul, dan mencakar diri sendiri
· Menggigit tangan, lengan, bibir, atau lidah
· Menggaruk-garuk kulit sampai berdarah
· Mengutak-atik luka yang sedang dalam proses penyembuhan
· Mememarkan tubuh lewat kecelakaan yang sudah direncanakan sebelumnya
· Membakar diri baik dalam bentuk ringan misal dengan rokok atau pembakaran tubuh secara luas.
· Menusuk diri sendiri dengan kawat, peniti, paku, pulpen, dan lainnya.
· Mematahkan tulang-tulang mereka sendiri
· Mencungkil mata
· Menelan bahan kimia korosif, baterai, peniti, dan benda lainnya.
· Pada beberapa kasus juga dilaporkan pelaku meracuni dirinya sendiri secara berulang.
· Self injury indirect :
Bertahan pada hubungan yang penuh dengan kekejaman dan penganiayaan adalah salah satu hal yang dapat digolongkan pada self injury yang tidak langsung, mengambil resiko berbahaya yang sebenarnya anda tahu, bahwa nanti anda akan terluka. Merokok tidak termasuk self harm karena merokok tidak mengakibatkan sakit yang segera. Anorexia juga bukan termasuk self injury karena anorexia tujuannya ingin kurus, bukan rasa sakit. Yang dapat digolongkan self injury adalah hal-hal yang anda tahu akan menyebabkan anda sakit/ terluka dengan segera namun masih tetap anda lakukan.
Benarkah persepsi masyarakat yang menganggap jika self injury ini hanyalah untuk mencari perhatian orang lain??
Kesalahan konsepsi yang lazim dijumpai dalam self injury adalah bahwa masyarakat umum menganggap bahwa tindakan ini dilakukan oleh pelakunya untuk mencari perhatian semata. Sedangkan dalam kenyataannya, banyak pelaku self injury yang sangat menyadari keberadaan luka dan parut pada tubuh mereka dan umumnya mereka berusaha menyembunyikannya dari orang lain. Jika dipertanyakan oleh orang lain bagaimana mereka memperoleh luka-luka tersebut maka biasanya mereka menjawab bahwa luka-luka tersebut diperoleh dengan cara lain misalnya saja kecelakaan dan biasanya mereka menyembunyikannya dengan cara menggunakan baju yang sangat tertutup.
Apa ya, yang menyebabkan kelainan ini terjadi?
Penyebabnya antara lain :
Deperesi, pikiran yang kacau, perasaan sendirian, kesepian, tidak mendapatkan pengakuan/ penerimaan dari lingkungan, perasaan takut terhadap apapun, kekesalan yang tak dapat diluapkan, perasaan tertekan, pengalaman pahit masa lalu, penderitaan, ketidak berdayaan, kecemasan berlebih terhadap masa depan, kurang dimengerti, penderitaan yang mendalam disebabkan apapun, kehilangan, penyesalan, diabaikan, serta masalah kehidupan mulai dari masalah keuangan, hubungan, pekerjaan,dsb.
Sebenarnya tidak ada penderita self harm ini yang benar-benar sendirian, ia pandai menyembunyikan hal ini terhadap lingkungannya, merasa sepi walau dikelilingi banyak orang, karena orang lain mungkin tidak paham terhadap apa yang mereka rasakan, ketidakmampuan kita memahami mereka akan semakin memperburuk keadaan mereka. Sedikit sekali orang dapat memahami hal ini, karena bagi orang normal kebiasaan mereka itu sangat mengerikan. Sebenarnya bagi para penderita kelainan ini, self harm dapat membantu mereka untuk lebih relax, tenang dan merasa benar-benar hidup saat memotong bagian tubuhnya. Karena ketika mereka menyakiti fisiknya, tubuhnya akan memproduksi ‘endorphins’ yang menciptakan perasaan positif yang membuat mereka merasa lebih baik.
Nah, apakah pembaca merupakan salah seorang penderita self harm??
Jangan khawatir, anda dapat menghentikan kecanduan akan menyakiti diri sendiri itu dengan berbagai terapi, terapi cognitive misalnya. Sedangkan pada kasus yang berat anda mngkin memerlukan “antidepressant”. Anda juga dapat memilih alternative lain untuk menghindari self harm misalnya :
pada keadaan marah cobalah untuk berlari atau menari dengan cepat, memukuli bantal, berteriak, melempar barang, atau mematahkan pensil
jika anda merasa kosong dan anda butuh untuk merasakan sesuatu cobalah mandi dengan air dingin, menggenggam es batu kuat-kuat, makan cabe dll.
Jika anda ingin menenangkan diri, cobalah menggambar sesuatu, menulis atau mandi, bermeditasi dsb.
Anda harus mulai membuka diri anda, ceritakan masalah yang anda hadapi pada orang yang anda percaya. Cobalah!
OK Demikian sedikit pembahasan mengenai self harm, semoga bermanfaat!
Sumber:
REVOLUSI KECERDASAN MANUSIA
A. Pemahaman Umum Mengenai Kecerdasan.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan paling sempurna yang dilengkapi dengan akal dan fikiran yang menjadikan manusia makhluk paling cerdas. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling cerdas, manusia dikaruniai komponen kecerdasan yang paling kompleks. Kecerdasan atau intelegensi biasanya dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam belajar, penyelesaian masalah, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan hal-hal yang baru. Dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp dikemukakan bahwa, Thorndike mengemukakan pendapatnya bahwa intelligence is demonstrable in ability of individual to make good responses from the stand point of truth or fact (kecerdasan dibuktikan dalam kemampuan individu untuk membuat tanggapan yang baik dari titik pandang mengenai kebenaran atau fakta). (Sumardi suryabrata. 2004)
Thorndike adalah salah satu ahli yang membagi kecerdasan manusia menjadi tiga, yaitu kecerdasan Abstrak -- Kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa, Kecerdasan Kongkrit -- kemampuan memahami objek nyata dan Kecerdasan Sosial – kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional ( Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University:1994).
Pakar lain seperti Charles Handy juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu: Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial (Inside Organizaion: 1990).
Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner & Associates konon memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual / Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik / Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal (Dr. Steve Hallam, Creative and leadership, Colloquium in Business, Fall: 2002).
Pakar lain seperti Charles Handy juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu: Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial (Inside Organizaion: 1990).
Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner & Associates konon memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual / Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik / Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal (Dr. Steve Hallam, Creative and leadership, Colloquium in Business, Fall: 2002).
B. Kecerdasan intelektual, Emosional dan Spiritual
1. Kecerdasan Intelektual (IQ)
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. (http://www.balitacerdas.com/kembang/iq.html )
Dalam sejarah intelegensi yang dimuat dalam (http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_quotient).Tes pertama skala besar mungkin telah menjadi sistem ujian mental kekaisaran di China. Pengujian mental modern dimulai di Perancis pada abad kesembilan belas. Hal ini memberikan kontribusi untuk memisahkan keterbelakangan mental dari penyakit mental dan mengurangi penyiksaan, dan ejekan pada kedua kelompok.
Psikolog Perancis, Alfred Binet, bersama-sama dengan Victor Henri dan Théodore Simon, setelah sekitar 15 tahun pembangunan, menerbitkan tes Binet-Simon untuk penggunaan praktis untuk menentukan penempatan pendidikan; skor pada skala Binet-Simon akan mengungkapkan usia mental anak. Binet juga menekankan bahwa pembangunan intelektual berkembang dengan tingkat variabel dan dapat dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga kecerdasan tidak hanya didasarkan pada genetika, itu ditempa daripada tetap, dan hanya bisa ditemukan pada anak-anak dengan latar belakang sebanding (Siegler, 1992).
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang intelegensi, antara lain :
· Teori Faktor-faktor. Dalam intelegensi didapati factor-faktor tertentu yang membentuk intelegensi. Seperti dikemukakan oleh Thorndike dengan teori multi faktornya, yaitu bahwa intelegensi tersusun dari beberapa elemen, dan tiap-tiap elemen terdiri dari atom-atom yang merupakan hubungan stimulus respons. Jadi suatu aktivitas yang menyangkut intelegensi merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya. Menurut spearman intelegensi itu mengandung dua macam factor, yakni faktor G (general factor) dan faktor S (special factor)
· Teori orientasi proses yang mendasarkan bagaimana cara individu dalam menyelesaikan masalah.
· Teori proses informasi mengenai intelegensi (information processing theory) mengemukakan bahwa intelegensi akan diukur dari fungsi-fungsi proses sensoris, koding, ingatan, dan kemampuan mental yang lain termasuk belajar.
(Bimo Walgito :2005)
Pengukuran Inteligensi, Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun. Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalahWAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat. (http://www.balitacerdas.com/kembang/iq.html)
Selama bertahun-tahun, orang beranggapan bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan intelektual (intelligence Quotient), sering disebut IQ. Kecerdasan ini merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah secara logis dan akademis. Para ahli meyakini IQ sebagai ukuran terbaik atas kecerdasan dan potensial seseorang dalam meraih sukses, semakin tinggi IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya. Sebaliknya, orang yang gagal dalam hidupnya dianggap memiliki IQ yang rendah, sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
b.kecerdasan emosional (EQ)
Dalam (http://mudjiarahardjo.com/artikel/211-antara-iq-eq-dan-sq.html) dikemukakan bahwa, Pada pertengahan 1990-an, para ahli menemukan bentuk kecerdasan lain yang menentukan keberhasilan seseorang, yaitu EQ (Emotional Quotient) Daniel Goleman (1999) mengatakan bahwa EQ merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi secara tepat. EQ akan saling melengkapi dengan Kecerdasan Intelegensi (IQ). EQ membantu seseorang untuk menggunakan IQ secara efektif. Dr. (Steve Hallam, 2002)
Dengan demikian, IQ bukan satu-satunya kecerdasan yang menentukan keberhasilan seseorang, sebagaimana selama ini diyakini banyak orang. Seseorang yang memiliki IQ tinggi tidak berarti memiliki EQ yang tinggi juga, begitupun sebaliknya.
Para ahli menemukan bahwa sistem pola asuh ternyata banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan kecerdasan emosi seseorang. Di samping itu, faktor kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi juga turut mempengaruhi EQ seseorang. Faktor lingkungan, dimana yang bersangkutan hidup dan berelasi, ternyata sangat memberi warna terhadap kecerdasan emosi seseorang. (http://kembara-bumi.blogspot.com/2009/09/apakah-eq-atau-kecerdasan-emosi-itu.html) Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.
EQ sebenarnya koleksi keterampilan yang luas. Goleman dan Richard Boyatzis baru-baru ini mengelompokan keterampilan ini ke dalam 4 kuadran sebagai berikut :
SELF AWARENESS
• Emotional self-awareness
• Accurate self-assessment
• Self-confidence
|
OTHER AWARENESS
• Empathy
• Organizational Awareness
• Service Orientation
|
SELF MANAGEMENT
• Emotional Self-Control
• Transparency (honest/trustworthy)
• Adaptability
• Achievement Orientation
• Initiative
• Optimism
|
RELATIONSHIP SKILLS
• Developing Others
• Inspirational Leadership
• Influence
• Change Catalyst
• Conflict Management
• Teamwork & Collaboration
|
Penelitian yang dilakukan oleh Goleman dan Boyatzis menunjukkan bahwa ketrampilan-Kesadaran diri harus dikembangkan sebelum yang lain berkembang. Hal ini masuk akal jika kita mempertimbangkan kesadaran control diri saat emosi. (Wigglesworth, Cindy.2002.). Jika kita tidak sadar ketika marah bagaimana kita dapat memiliki kontroldiri terhadap emosi? Bagaimana anda bisa Empati pada kemarahan orang lain? Bagaimana saya bisa menangani konflik dengan tepat? Penelitian tentang EQ, memberi gambaran bahwa tidak diragukan lagi bahwa keterampilan ini penting bagi keberhasilan pribadi dan bisnis. EQ tidak ada yang permanen, dalam arti kata dapat ditingkatkan. Inilah tekad untuk memulai langkah pertama, yakni mengenal kekuatan dan kelemahan diri terutama dalam berhubungan dengan orang lain.
c. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Beberapa tahun terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens). Tepatnya di tahun 2000, dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the Ultimate Intellegence, Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang memiliki SQ yang tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
Kecerdasan ini juga digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakikinya. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada kekurangannya. Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Intelejensia spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, dan tentu saja dengan sang maha pencipta. Kecerdasan Spiritual merupakan satu-satunya Kecerdasan Bawaan manusia yang bersifat Ilahi (tak terbatas dan langgeng), di samping kecerdasan bawaan lainnya yang bersifat manusiawi (terbatas dan sementara). Dengan Kecerdasan Spiritual barulah seseorang bisa disebut sebagai Manusia Pribadi Utuh yang mempunyai kecerdasan bawaan selengkap seperti yang Tuhan anugerahkan. Didalam hidup sosial kita perlu SQ(Spiritual Quotient) atau kecerdasan spiritual, ada yang beranggapan bahwa kecerdasan ini perkembangannya menjadi penting bagi setiap manusia selain EQ.
Menurut Danar Zohar dan Ian Marshal, pakar psikolog didalam bukunya “SQ: Spiritual Quotient, The Ultimate Intelligence” memberikan pandangan mengenai tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi. Tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi tersebut antara lain sebagai berikut;
3. Mampu untuk bersikap fleksibel (secara aktif dan spontan).
4. Cenderung untuk bertanya “bagaimana jika?” atau “mengapa?” ketika mencari jawaban yang paling mendasar.
6. Memiliki kualitas hidup yang didasari dari visi dan nilai-nilai.
8. Mampu untuk menghadapi dan melewati rasa takut.
C. Penerapan IQ, EQ dan SQ dalam Kehidupan sehari-hari
Kecerdasan tentu sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang, kecerdasan juga mempengaruhi sukses tidaknya seseorang dalam berbagai hal, misalnya bekerja dan belajar. IQ, EQ, dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Rencana keputusan yang hendak kita ambil – hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimana pun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan orang lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ, yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam menimbang dan memutuskan. Kecerdasan spiritual mampu mengoptimalkan kerja kecerdasan yang lain. Ari ginanjar mengatakan, Individu yang mempunyai SQ yang tinggi, mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya berdasarkan makna yang ia peroleh, dari sana ketenangan hati akan muncul.( Agustiar, Ari Ginanjar.2002). Jika hati telah tenang EQ akan memberi sinyal untuk menurunkan kerja simpatis menjadi para simpatis. Bila ia telah tenang karena aliran darah telah teratur maka individu akan dapat berfikir secara optimal IQ, sehingga ia lebih tepat dalam mengambil keputusan. .( Ubaydillah, AN.2004)
Manajemen diri untuk mengolah hati dan potensi kamanusiaan tidak cukup hanya denga IQ dan EQ, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sangat berperan dalam diri manusia sebagai pembimbing kecerdasan lain. Kini tidak cukup orang dapat sukses berkarya hanya dengan kecerdasan rasional (yang bekerja dengan rumus dan logika kerja), melainkan orang perlu kecerdasan emosional agar merasa gembira, dapat bekerjasama dengan orang lain, punya motivasi kerja, bertanggung jawab dan life skill lainnya. Perlunya mengembangkan kecerdasan spiritual agar ia merasa bermakna, berbakti dan mengabdi secara tulus, luhur dan tanpa pamrih dan rasa terpaksa dalam mengerjakan sesuatu.
Daftar Pustaka
Suryabrata, Sumardi. 2004.Psikologi Pendidikan.Jakarta: Rajawali Pers.
Wigglesworth, Cindy.2002. Spiritual Intelligence and Why It Matters.
http://www.consciouspursuits.com/articles/siwhyitmatters.pdf.( diakses pada 24 Mei 2011).
Agustiar, Ari Ginanjar.2002. ESQ. Jakarta : Erlangga.
Ubaydillah, AN.2004. Selayang Pandang IQ, EQ dan SQ. http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp. (diakses pada 24 Mei 2011).
Maddupa, Hawis H.IQ,EQ dan SQ. http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp. (diakses pada 24 Mei 2011)
Walgito, Bimo.2005.Pengantar Psikologi Umum.Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Rahardjo, . Mudjia.2010. Antara IQ, EQ dan SQ. http://mudjiarahardjo.com/artikel/211-antara-iq-eq-dan-sq.html. (diakses pada 24 Mei 2011).
_______.2009.Apakah EQ atau Kecerdasan Emosi itu?. http://kembara-bumi.blogspot.com/2009/09/apakah-eq-atau-kecerdasan-emosi-itu.html (diakses pada 24 Mei 2011).
A. Winarno dan Tri Saksono,2001. Kecerdasan Emosional, Jakarta: LAN
____________. Intellegence Quotient. http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_quotient (diakses pada 24 Mei 2011).
______.Emotional Intellegence.http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_intelligence (diakses pada 24 Mei 2011).
__________.2009. Tanda-tanda Orang SQ Tinggi http://www.f-buzz.com/2009/02/11/tanda-orang-sq-tinggi/(diakses pada 24 Mei 2011).
Dr. Steve Hallam, 2002. Creative and leadership,Colloquium in Business :Fall.
Siegler, 1992. Intellegence Quotient. http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_quotient (diakses pada 24 Mei 2011).
Langganan:
Komentar (Atom)