Cari Blog Ini

14 Juli 2011

REVOLUSI KECERDASAN MANUSIA

A. Pemahaman Umum Mengenai Kecerdasan.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan paling sempurna yang dilengkapi dengan akal dan fikiran yang menjadikan manusia makhluk paling cerdas. Sebagai makhluk  ciptaan Tuhan paling cerdas, manusia dikaruniai komponen kecerdasan yang paling kompleks. Kecerdasan atau intelegensi biasanya dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam belajar, penyelesaian masalah, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan hal-hal yang baru. Dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp dikemukakan bahwa, Thorndike mengemukakan pendapatnya bahwa intelligence is demonstrable in ability of individual to make good responses from the stand point of truth or fact (kecerdasan dibuktikan dalam kemampuan individu untuk membuat tanggapan yang baik dari titik pandang mengenai kebenaran atau fakta). (Sumardi suryabrata. 2004)
Thorndike adalah salah satu ahli yang membagi kecerdasan manusia menjadi tiga, yaitu kecerdasan Abstrak -- Kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa, Kecerdasan Kongkrit -- kemampuan memahami objek nyata dan Kecerdasan Sosial – kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional ( Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University:1994).

Pakar lain seperti Charles Handy juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu: Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial (Inside Organizaion: 1990)
.
Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner & Associates konon memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual / Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik / Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal (Dr. Steve Hallam, Creative and leadership, Colloquium in Business, Fall: 2002).
B. Kecerdasan intelektual, Emosional dan Spiritual
            1. Kecerdasan Intelektual (IQ)
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. (http://www.balitacerdas.com/kembang/iq.html )
Dalam sejarah intelegensi yang dimuat dalam (http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_quotient).Tes pertama skala besar mungkin telah menjadi sistem ujian mental kekaisaran di China. Pengujian mental modern dimulai di Perancis pada abad kesembilan belas. Hal ini memberikan kontribusi untuk memisahkan keterbelakangan mental dari penyakit mental dan mengurangi penyiksaan, dan ejekan  pada kedua kelompok.
Psikolog Perancis, Alfred Binet, bersama-sama dengan Victor Henri dan Théodore Simon, setelah sekitar 15 tahun pembangunan, menerbitkan tes Binet-Simon untuk penggunaan praktis untuk menentukan penempatan pendidikan; skor pada skala Binet-Simon akan mengungkapkan usia mental anak. Binet juga menekankan bahwa pembangunan intelektual berkembang dengan tingkat variabel dan dapat dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga kecerdasan tidak hanya didasarkan pada genetika, itu ditempa daripada tetap, dan hanya bisa ditemukan pada anak-anak dengan latar belakang sebanding (Siegler, 1992).
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang intelegensi, antara lain :
·         Teori Faktor-faktor. Dalam intelegensi didapati factor-faktor tertentu yang membentuk intelegensi. Seperti dikemukakan oleh Thorndike dengan teori multi faktornya, yaitu bahwa intelegensi tersusun dari beberapa elemen, dan tiap-tiap elemen terdiri dari atom-atom yang merupakan hubungan stimulus respons. Jadi suatu aktivitas yang menyangkut intelegensi merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya. Menurut spearman intelegensi itu mengandung dua macam factor, yakni faktor G (general factor) dan faktor S (special factor)
·         Teori orientasi proses yang mendasarkan bagaimana cara individu dalam menyelesaikan masalah.
·         Teori proses informasi mengenai intelegensi (information processing theory) mengemukakan bahwa intelegensi akan diukur dari fungsi-fungsi proses sensoris, koding, ingatan, dan kemampuan mental yang lain termasuk belajar.
(Bimo Walgito :2005)
Pengukuran Inteligensi, Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun. Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalahWAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat. (http://www.balitacerdas.com/kembang/iq.html)
Selama bertahun-tahun, orang beranggapan bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan intelektual (intelligence Quotient),  sering disebut  IQKecerdasan ini merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah secara logis dan akademis. Para ahli meyakini IQ sebagai ukuran terbaik atas kecerdasan dan potensial seseorang dalam meraih sukses, semakin tinggi IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya. Sebaliknya, orang yang gagal dalam hidupnya dianggap memiliki IQ yang rendah, sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.

b.kecerdasan emosional (EQ)
Dalam (http://mudjiarahardjo.com/artikel/211-antara-iq-eq-dan-sq.html) dikemukakan bahwa, Pada pertengahan 1990-an, para ahli menemukan bentuk kecerdasan lain yang menentukan keberhasilan seseorang, yaitu EQ (Emotional Quotient) Daniel Goleman (1999) mengatakan bahwa EQ merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi secara tepat. EQ akan saling melengkapi dengan Kecerdasan Intelegensi (IQ). EQ membantu seseorang untuk menggunakan IQ secara efektif. Dr. (Steve Hallam, 2002)
Dengan demikian, IQ bukan satu-satunya kecerdasan yang menentukan keberhasilan seseorang, sebagaimana selama ini diyakini banyak orang. Seseorang yang memiliki IQ tinggi tidak berarti memiliki EQ yang  tinggi juga, begitupun sebaliknya.
Para ahli menemukan bahwa sistem pola asuh ternyata banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan kecerdasan emosi seseorang. Di samping itu, faktor kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi juga turut mempengaruhi EQ seseorang. Faktor lingkungan, dimana yang bersangkutan hidup dan berelasi, ternyata sangat memberi warna terhadap kecerdasan emosi seseorang. (http://kembara-bumi.blogspot.com/2009/09/apakah-eq-atau-kecerdasan-emosi-itu.html)  Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.
EQ sebenarnya  koleksi keterampilan yang luas. Goleman dan Richard Boyatzis baru-baru ini mengelompokan keterampilan ini ke dalam 4 kuadran sebagai berikut :

SELF AWARENESS
• Emotional self-awareness
• Accurate self-assessment
• Self-confidence

OTHER AWARENESS
• Empathy
• Organizational Awareness
• Service Orientation

SELF MANAGEMENT
• Emotional Self-Control
• Transparency (honest/trustworthy)
• Adaptability
• Achievement Orientation
• Initiative
• Optimism

RELATIONSHIP SKILLS
• Developing Others
• Inspirational Leadership
• Influence
• Change Catalyst
• Conflict Management
• Teamwork & Collaboration

Penelitian yang dilakukan oleh Goleman dan Boyatzis menunjukkan bahwa ketrampilan-Kesadaran diri harus dikembangkan sebelum yang lain berkembang. Hal ini masuk akal jika kita mempertimbangkan kesadaran control diri saat emosi. (Wigglesworth, Cindy.2002.). Jika kita tidak sadar ketika  marah bagaimana kita dapat memiliki kontroldiri terhadap emosi? Bagaimana anda bisa Empati pada kemarahan orang lain? Bagaimana saya bisa menangani konflik dengan tepat? Penelitian tentang EQ, memberi gambaran bahwa tidak diragukan lagi bahwa keterampilan ini penting bagi keberhasilan pribadi dan bisnis. EQ tidak ada yang permanen, dalam arti kata dapat ditingkatkan. Inilah tekad untuk memulai langkah pertama, yakni mengenal kekuatan dan kelemahan diri terutama dalam berhubungan dengan orang lain.


            c. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Beberapa tahun terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens). Tepatnya di tahun 2000, dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the Ultimate Intellegence, Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang memiliki SQ yang tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
Kecerdasan ini juga digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakikinya. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada kekurangannya. Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Intelejensia spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, dan tentu saja dengan sang maha pencipta. Kecerdasan Spiritual merupakan satu-satunya Kecerdasan Bawaan manusia yang bersifat Ilahi (tak terbatas dan langgeng), di samping kecerdasan bawaan lainnya yang bersifat manusiawi (terbatas dan sementara). Dengan Kecerdasan Spiritual barulah seseorang bisa disebut sebagai Manusia Pribadi Utuh yang mempunyai kecerdasan bawaan selengkap seperti yang Tuhan anugerahkan. Didalam hidup sosial kita perlu SQ(Spiritual Quotient) atau kecerdasan spiritual, ada yang beranggapan bahwa kecerdasan ini perkembangannya menjadi penting bagi setiap manusia selain EQ.
Menurut Danar Zohar dan Ian Marshal, pakar psikolog didalam bukunya “SQ: Spiritual Quotient, The Ultimate Intelligence” memberikan pandangan mengenai tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi. Tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi tersebut antara lain sebagai berikut;
1.            Berkemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaannya
2.            Cenderung untuk memandang segala hal itu berkaitan (holistik).
3.            Mampu untuk bersikap fleksibel (secara aktif dan spontan).
4.            Cenderung untuk bertanya “bagaimana jika?” atau “mengapa?” ketika mencari jawaban yang paling mendasar.
5.            Memiliki tingkat kesadaran yang tinggi
6.            Memiliki kualitas hidup yang didasari dari visi dan nilai-nilai.
7.            Merupakan pemimpin yang bertanggung jawab  serta berpengabdian.
8.            Mampu untuk menghadapi dan melewati rasa takut.
9.            Menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan kerugian yang tidak perlu.

C. Penerapan IQ, EQ dan SQ dalam Kehidupan sehari-hari
Kecerdasan tentu sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang, kecerdasan juga mempengaruhi sukses tidaknya seseorang dalam berbagai hal, misalnya bekerja dan belajar. IQ, EQ, dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Rencana keputusan yang hendak kita ambil – hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimana pun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan orang lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ, yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam menimbang dan memutuskan. Kecerdasan spiritual mampu mengoptimalkan kerja kecerdasan yang lain. Ari ginanjar mengatakan, Individu yang mempunyai SQ yang tinggi, mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya berdasarkan makna yang ia peroleh, dari sana ketenangan hati akan muncul.( Agustiar, Ari Ginanjar.2002).  Jika hati telah tenang EQ akan memberi sinyal untuk menurunkan kerja simpatis menjadi para simpatis. Bila ia telah tenang karena aliran darah telah teratur maka individu akan dapat berfikir secara optimal IQ, sehingga ia lebih tepat dalam mengambil keputusan. .( Ubaydillah, AN.2004)
 Manajemen diri untuk mengolah hati dan potensi kamanusiaan tidak cukup hanya denga IQ dan EQ, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sangat berperan dalam diri manusia sebagai pembimbing kecerdasan lain. Kini tidak cukup orang dapat sukses berkarya hanya dengan kecerdasan rasional (yang bekerja dengan rumus dan logika kerja), melainkan orang perlu kecerdasan emosional agar merasa gembira, dapat bekerjasama dengan orang lain, punya motivasi kerja, bertanggung jawab dan life skill lainnya. Perlunya mengembangkan kecerdasan spiritual agar ia merasa bermakna, berbakti dan mengabdi secara tulus, luhur dan tanpa pamrih dan rasa terpaksa dalam mengerjakan sesuatu.


Daftar Pustaka

Suryabrata, Sumardi. 2004.Psikologi Pendidikan.Jakarta: Rajawali Pers.

 Wigglesworth, Cindy.2002. Spiritual Intelligence and Why It Matters.

Agustiar, Ari Ginanjar.2002. ESQ. Jakarta : Erlangga.

Ubaydillah, AN.2004. Selayang Pandang IQ, EQ dan SQ. http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp.  (diakses pada 24 Mei 2011).

Maddupa, Hawis H.IQ,EQ dan SQ. http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp. (diakses pada 24 Mei 2011)

Walgito, Bimo.2005.Pengantar Psikologi Umum.Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Rahardjo, . Mudjia.2010. Antara IQ, EQ dan SQ. http://mudjiarahardjo.com/artikel/211-antara-iq-eq-dan-sq.html. (diakses pada 24 Mei 2011).

_______.2009.Apakah EQ atau Kecerdasan Emosi itu?. http://kembara-bumi.blogspot.com/2009/09/apakah-eq-atau-kecerdasan-emosi-itu.html (diakses pada 24 Mei 2011).

A. Winarno dan Tri Saksono,2001. Kecerdasan Emosional, Jakarta: LAN
____________. Intellegence Quotient. http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_quotient (diakses pada 24 Mei 2011).

______.Emotional Intellegence.http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_intelligence (diakses pada 24 Mei 2011).

__________.2009. Tanda-tanda Orang SQ Tinggi http://www.f-buzz.com/2009/02/11/tanda-orang-sq-tinggi/(diakses pada 24 Mei 2011).

Dr. Steve Hallam, 2002. Creative and leadership,Colloquium in Business :Fall.
Siegler, 1992. Intellegence Quotient. http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_quotient (diakses pada 24 Mei 2011).

Tidak ada komentar: