Terinspirasi dari acara “KICK
ANDY!” Malem ini, aku jadi tertarik untuk membahas skizofrenia. Istilah skizofrenia
berasal dari kata schizos
: pecah belah dan phren:
jiwa. Skizofrenia menjelaskan mengenai suatu gangguan jiwa dimana penderita
mengalami perpecahan jiwa adanya keretakan atau disharmoni antara proses
berfikir, perasaan dan perbuatan, Kraepelin seorang ahli kedokteran jiwa dari
kota Munich memaparkan skizofrenia sebagai bentuk kemunduran intelegensi
sebelum waktunya yang dinamakannya demensia prekox (demensia : kemunduran
intelegensi) prekox (muda, sebelum waktunya).
Skizofrenia
adalah gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak
manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitif, emosional dan tingkah laku. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim
dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri
dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan
yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Distorsi
persepsi dapat mempengaruhi semua lima indera, termasuk penglihatan, pendengaran,
rasa, bau dan sentuhan, tapi paling sering bermanifestasi sebagai halusinasi
pendengaran, delusi paranoid atau aneh, atau pidato teratur dan berpikir dengan
disfungsi sosial atau pekerjaan yang signifikan. Timbulnya gejala biasanya
terjadi pada dewasa muda, dengan sekitar 0,4-0,6% dari populasi yang terkena.
Diagnosa didasarkan pada yang dilaporkan sendiri pasien pengalaman dan perilaku
yang diamati.
Ada banyak perkiraan sebagai penyebab terjadinya
skizofrenia, Studi menunjukkan bahwa genetika, lingkungan awal,
neurobiologi, proses psikologis dan sosial merupakan faktor penyumbang penting.
Perkiraan penyebab skizofrenia yang
berasal dari segi fisik yang pertama adalah berasal dari faktor genetik atau
faktor keturunan, hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga
penderita skizofrenia. Potensi untuk mendapatkan skizofrenia tidak langsung
diturunkan melalui gen resesif, potensi ini mungkin kuat tapi mungkin lemah
sebab selanjutnya juga akan tergantung pada lingkungan individu apakah akan
menjadi skizofrenia atau tidak. Sama seperti penderita diabetes mellitus
walaupun ia adalah resesif diabetes namun jika ia dapat menjaga pola hidup yang
sehat maka ia tidak akan menderita diabetes. Selanjutnya adalah kelainan
susunan syaraf pusat, yang terletak pada diensefalon atau kortex otak, kelainan
tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem.
Penelitian psikiatri saat ini
difokuskan pada peran neurobiologi, tapi tidak ada penyebab organik tunggal
telah ditemukan. Sebagai hasil dari kombinasi banyak kemungkinan gejala, ada
perdebatan tentang apakah diagnosis merupakan suatu kelainan tunggal atau
sejumlah sindrom diskrit. Untuk alasan ini, Eugen Bleuler disebut penyakit
schizophrenias (jamak) ketika ia menciptakan nama itu. Meskipun etimologinya,
skizofrenia adalah tidak sama dengan gangguan identitas disosiatif, sebelumnya
dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda atau kepribadian ganda, yang telah
keliru bingung.
Peningkatan dopamin aktivitas di
jalur mesolimbic otak secara konsisten ditemukan pada individu skizofrenia.
Andalan pengobatan obat antipsikotik, obat jenis ini terutama bekerja dengan
menekan aktivitas dopamin. Dosis antipsikotik yang umumnya lebih rendah
daripada di dekade awal penggunaan mereka. Psikoterapi, dan rehabilitasi
kejuruan dan sosial juga penting. Dalam kasus yang lebih serius - di mana ada
resiko untuk diri dan orang lain - rawat inap paksa mungkin diperlukan,
walaupun tetap rumah sakit kurang sering dan untuk waktu yang lebih pendek
daripada mereka di masa sebelumnya.
Kelainan ini diduga terutama
mempengaruhi kognisi, tetapi juga biasanya memberikan kontribusi untuk masalah
kronis dengan perilaku dan emosi. Orang dengan skizofrenia cenderung memiliki
tambahan (komorbiditas) kondisi, termasuk depresi mayor dan gangguan kecemasan;
terjadinya penyalahgunaan zat seumur hidup adalah sekitar 40%. Masalah sosial,
seperti jangka panjang, kemiskinan pengangguran dan tunawisma, yang umum.
Selanjutnya, rata-rata harapan hidup orang dengan gangguan tersebut adalah 10
sampai 12 tahun kurang daripada mereka yang tidak, karena meningkatnya masalah
kesehatan fisik dan tingkat bunuh diri lebih tinggi.
Ada
beberapa ahli yang menjelaskan mengenai teori psikogenik yang pertama
adalah teori Adolf Meyer, menurut meyer skizofrenia merupakan suatu reaksi yang
salah, suatu maladaptasi, oleh karena itu timbul suatu disorganisasi
kepribadian dan lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan
(otisme). Kemudian teori Sigmund Freud, menurut Freud dalam skizofrenia
terdapat kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik maupun
somatik, superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang
berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.
Gejala-gejala
skizofrenia dibagi menjadi dua yaitu gejala primer dan gejala sekunder,
gejala primer diantaranya gangguan proses pikiran (bentuk,langkah dan isi
pikiran), gangguan afek dan emosi, gangguan kemauan, banyak penderita dengan
skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat mengambil keputusan
dan tidak dapat mengambil tindakan dalam suatu keputusan. Dan yang terakhir
adalah gejala psikomotor juga dinamakan gejala katatonik atau gangguan
perbuatan. Kemudian gejala sekunder yang terdiri dari waham, waham yang
diderita penderita skizofrenik sering tida logis dan bizar. Tetapi penderita
tidak memahami hal tersebut dan menganggap bahwa wahamnya merupakan fakta dan tidak
dapat diubah oleh siapapun. Gejala sekunder yang kedua adalah halusinasi, pada
skizofrenia halusinasi timbul tanpa ada penurunan kesadaran dan hal ini
merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain. Paling
sering pada skizofrenia adalah halusinasi pendengaran, halusinasi penciuman,
halausinasi citarasa atau halusinasi taktil (singgungan).
Kraepelin
membagi skizofrenia mejadi beberapa jenis:
1. Skizofrenia kompleks, gejala
utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
2. Jenis bebefrenik, gejala yang
menonjol adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya
depersonalisasi atau double personality.
3. Jenis katatonik, biasanya akut
dan didahului oleh stress emosional, dapat terjadi stupor katatonik (penderita
tidak menampakkan sama sekali ketertarikannya terhadap lingkungannya) dan gaduh
gelisah katatonik ( terdapat hiperaktifitas motorik, tetapi tidak disertai
emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi rangsangan dari luar).
4. Jenis paranoid, gejala-gejala
yang menyolok adalah waham primer disertai dengan waham-waham sekunder dan
halusinasi.
5. Episoda skizofrenia akut,
gejala skizofrenia muncul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan
mimpi. Dalam keadaan ini seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berkabut.
6. Skizofrenia residual gejala
yang menyolok adalah gangguan afek dan emosi, gangguan pikiran dan kemauan.
7. Jenis skizo-afektif disamping
gejala skizofrenia menonjol pada saat bersamaan juga gejala depresi atau gejala
mania.
Jenis
Skizofrenia
a. Paranoid
Skizofrenia
Jenis skizofrenia dimana
penderitanya mengalami bayangan dan khayalan tentang penganiayaan dan kontrol
dari orang lain dan juga kesombongan yang berdasarkan kepercayaan bahwa
penderitanya itu lebih mampu dan lebih hebat dari orang lain.
b. Skizofrenia
Tidak Teratur
Jenis skizofrenia yang sifatnya
ditandai terutama oleh gangguan dan kelainan di pikiran. Seseorang yang menderita
skizofrenia sering menunjukkan tanda tanda emosi dan eksspressi yang tidak
esuai untuk keadaan nya. Halusinasi dan khayalan adalah gejala gejala yang
sering dialami untuk orang yang mederita skizofrenia jenis ini.
c. Katatonia
Skizofrenia
Jenis skizofrenia yang ditandai
dengan berbagai gangguan motorik, termasuk kegembiraan ekstrim dan pingsan.
orang yang menderita bentuk skizofrenia ini akan menampilkan gejala negatif:
postur katatonik dan fleksibilitas seperti lilin yang bisa di pertahankan dalam
turun waktu yang panjang.
d. Dibedakan
Skizofrenia
Jenis skizofrenia dimana
penderita penyakitnya memiliki delusi, halusinasi dan perilaku tidak teratur
tetapi tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, tidak teratur, atau
katatonik
e. Sisa
Skizofrenia
Skizofrenia sisa akan di
diagnosis ketika setidaknya epsiode dari salah satu dari empat jenis
skizofrenia yang lainnya telah terjadi. Tetapi skizofrenia ini tidak mempunyai
satu gejala positif yang menonjol.
Jenis-
jenis pengobatan pada skizofrenia:
1. Farmakologi, pemberian
neroleptika dosis rendah untuk skizofrenia menahun sedangkan dosis yang lebih
tinggi diberikan pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat.
2. Terapi elektro-konvulsi (TEK)
terapi konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak
dengan penderita.
3. Terapi koma insulin, bila
diberikan pada permulaan penyakit, maka akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
4. Psikoterapi dan rehabilitasi,
psikoterapi yang dilakukan berbentuk suportif individual atau kelompok serta
bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke
masyarakat.
5. Lobotomi prefrontal, dilakukan
bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila penderita sangat
mengganggu lingkungannya.
Pengobatan pada skizofrenia tidak
dapat sempurna sembuh tetapi dengan pengobatan dan bimbingan yang baik
penderita dapat ditolong untuk berfungsi terus, bekerja sederhna dirumah
ataupun diluar rumah. Keluarga atau orang lain dilingkungan penderita diberi
penerangan (manipulasi lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya.
Sumber
:

