Dalam rangka teori
interaksionalisme, manusia ditempatkan dalam posisi berhadapan dengan
lingkungan dan dalam posisi itu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi
itu dilakukan manusia pertama kali dengan penginderaannya. Setelah itu apa yang
diindrakan akan diproses lebih lanjut dalam alam kesadaran manusia (kognisi)
dan disini ikut brpengaruh berbagai faktor yang terdapat dalam kognisi itu
seperti memori (ingatan) tentang pengalaman masa lampau, minat, sikap, motivasi
dan intelegensi orang yang bersangkutan. Hasil pengolahan itu akan berbentuk
penilaian terhadap apa yang diinderakan tadi dan atas dasar penilaian itulah
muncul tingkah laku. Disini manusia menjadi makhluk bereasonable (berakal sehat). Orang yang melanggar peraturan lalu
lintas misalnya, bertindak sesuai akal sehat jika ia menilai situasi lalu
lintas cukup aman, sementara ia adalah seorang dokter yang harus menyelamatkan
nyawa pasiennya. Sedangkan jika ia melanggar lalu lintas itu karena meluapkan
kemarahannya dan ia tetap melanggar lalu lintas sedangkan keadaan lalu lintas
tidak aman, maka orang itu tidak bertindak sesuai akal sehat.
Kesalahan yang sering
dilakukan oleh pejabat, pengelola lingkungan, perancang lingkungan, dan sebagainya adalah menganggap orang hanya
terdiri atas satu aspek saja dari kognisinya, misalnya menganggap manusia itu
selalu rasional sehingga untuk mengarahkan tingkah laku orang cukup diberikan
penerangan saja. Misalnya memberi penerangan masyarakat tentang
kesulitan-kesulitan hidup dikota besar dengan harapan orang akan berhenti
berurbanisasi. Ternyata orang-orang desa masih tetap saja mengalir kekota. Atau
menganggap orang hanya terdiri atas emosi saja sehingga cukup mengarahkan
masyarakat dalam bekerja bakti cukup dikeluarkan surat perintah dari pejabat
tinggi diwilayah itu dengan harapan bahwa masyarakat akan mengikutinya karena
segan dan hormat kepada pejabat itu. Anggapan bahwa manusia adalah makhluk
reasonable dengan segala unsur dalam kognisinya sebagai satu kesatuan yang utuh
dan saling terkait akan mengurangi kesulitan-kesulitan dalam mempengaruhi
tingkah laku orang seperti diatas.
Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Lingkungan1992.Jakarta : grasindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar